Lencana Facebook

Rabu, 23 Juli 2014

KALENDER GEREJAWI HKBP

KALENDER GEREJAWI
Hari-hari raya gerejawi adalah hari-hari khusus yang dirayakan oleh gereja/umat Kristen di seluruh dunia dalam rangka memelihara iman kristen dan menyaksikan karya penyelamatan Allah kepada dunia melalui Anak-Nya Yesus Kristus, Juruselamat dunia. Dalam tahun gerejawi, yang menonjol adalah hari raya Natal dan hari raya Paskah. Kedua hari raya ini merupakan hari-hari penentu bagi keseluruhan tahun gerejawi (Natal, Kesengsaraan, Paskah, Kenaikan, dan Pentakosta).
Dalam tahun gerejawi, warna memegang peranan penting. Setiap masa memiliki warna tersendiri, sehingga pelaksanaan tahun gerejawi disertai dengan penggunaan warna. Penggunaan warna kemudian diikuti dengan penggunaan simbol-simbol gerejawi, sehingga tahun gerejawi ditandai dengan simbol dan warna tertentu.
1. ADVEN
Dari kata latin “Adventus” yang berarti kedatangan, yaitu kedatangan Tuhan Yesus (pada akhir zaman). Karena itu, masa Adven adalah masa penyadaran diri dan pertobatan. Selama Adven, pembacaan Alkitab ditekankan pada pembacaan nubuat-nubuat Perjanjian  Lama tentang kedatangan Mesias. Masa Adven yaitu empat (4) minggu sebelum tanggal 25 Desember.
Warna Liturgi untuk masa Advent : Ungu atau merah lembayung.
Simbol                         : Salib-Jangkar
Warna dasar               : ungu muda
Warna jangkar            : kuning
Arti:
Salib-Jangkar ini digunakan oleh orang Kristen mula-mula yang tinggal di katakombe (Goa bawah tanah untuk tempat persembunyian). Lambang ini adalah warisan bangsa Mesir kuno, namun kemudian menjadi lambang universal yang menunjuk pada penderitaan Kristus. Salab-Jangkar melambangkan pengharapan umat percaya di dalam masa kedatangan Kristus yang kedua.
2. NATAL
Natal adalah masa yang dimulai pada hari Natal dan berakhir selama 12 hari sampai tanggal 5 Januari malam, sebelum Epifania. Sejak akhir abad IV Natal dirayakan setiap tanggal 25 Desember sebagai peringatan kelahiran Kristus. Semula tanggal 25 Desember oleh dunia kafir dirayakan sebagai pesta Sol Invictus (matahari yang tak terkalahkan). Dengan merayakan 25 Desember sebagai kelahiran Kristus, gereja ingin menyatakan bahwa Terang yang baru, Matahari Kebenaran (Sol Institae), yang dinubuatkan nabi Maleakhi (Mal.4:2) adalah Kristus, Juru Selamat dunia yang datang dari Allah.
Warna liturgi untuk masa Natal: putih
symbol                        : palungan dan pelangi
Warna dasar                : putih
Warna pelangi              : merah, kuning, hijau
Warna palungan           : kuning
Arti:
Pelangi merupakan symbol kesetiaan dan cinta kasih Allah kepada dunia; Allah tidak akan menghancurkan bumi lagi (ingat air bah pada jaman Nuh). Pelangi juga mengingatkan kita tentang kesungguhan Allah untuk memenuhi janjiNya. Palungan memberi arti lawatan Allah kepada manusia yang nyata dalam diri anak-Nya yang tunggal Yesus Kristus sebagai Juru Selamat manusia. Pelangi dan palungan mengungkapkan kasih dan kesetiaan Allah terhadap dunia.
3. EPIFANIA
Epifania berarti “membuat nyata/jelas”. Masa Epifania dimulai pada tanggal 6 Januari, lamanya bervariasi tergantung penetapan Paskah. Selambat-lambatnya masa Epifania berlangsung sampai Minggu Septuagesima, 64 hari sebelum Paskah. Gereja protestan merayakan Epifania sebagai hari penampakan Yesus setelah dibaptis atau hari perjamuan kudus yang pertama. Ibadah-ibadah ditekankan pada pernyataan Yesus sebagai “Terang bagi bangsa-bangsa kafir”.
Warna liturgy untuk masa Epifania : Putih
Simbol               : Bintang besegi lima didalam lingkaran
Warna dasar       : hijau
Warna bintang    : putih
Warna lingkaran : kuning
Arti:
Bintang adalah lambang cahaya dalam kegelapan. Bintang bersegi lima ini lebih dikenal dengan bintang Yakub yang menunjuk pada terbitnya bintang dari keturunan Yakub (bil. 24:17). Terbitnya bintang ini kemudian dinyatakan melalui kelahiran Yesus yang ditandai pula dengan munculnya bintang di timur (Mat. 2:1-2). Kristus disebut sebagai “Bintang Kejora”, “Bintang Timur” (Why. 22:16) yang gilang gemilang, yang menjadi cahaya dalam kehidupan kita.
4. MINGGU PRA-PASKAH
Masa Pra-Paskah dirayakan tujuh (7) minggu sebelum Paskah. Selama masa Pra-Paskah jemaat melakukan puasa. Di beberapa gereja masa ini diisi dengan puasa solidaritas untuk diakonia.  Minggu Pra-Paskah merupakan masa untuk mawas diri dan bertobat dengan mengenang pengorbanan Kristus di kayu salib; masa untuk merenungkann ulang undangan hidup baru di dalam Kristus.
Warna liturgy untuk masa pra-Paskah adalah ungu atau hijau, dan pada hari Jumat Agung diganti warna hitam.
Symbol                            : Ikan (Ichtus)
Warna                              : Ungu tua
Warna tepi ikan dan huruf  : kuning
Tulisan di bawah ikan         : Yesus Kristus, Anak Allah, Juru Selamat.
Arti:
Ichtus adalah suatu sandi rahasia di kalangan orang Kristen mula-mula (terdapat dalam katakombe) yang mengalami penganiayaan. Dalam bahasa Yunani kata Ichtus berarti ikan dan merupakan huruf-huruf awal dari nama-nama Yunani bagi Kristus: Iesous Christos Theou Uios Soter yang artinya Yesus Kristus, Anak Allah, Juru Selamat.
5. JUMAT AGUNG
Jumat Agung di rayakan untuk memperingati kesengsaraan dan kematian Yesus di kayu salib di Golgota untuk menyelamatkan manusia. Jumat Agung adalah hari yang muram, hari untuk berefleksi diri atas segala dosa yang telah dilakukan dan kesediaan untuk bertobat.
Warna liturgi Jumat Agung :  hitam.
Symbol                        : salib dan mahkota duri
Warna dasar               : hitam
Warna salib                 : putih
Wana mahkota           : kuning
Arti:
Salib merupakan lambang yang sudah sangat dikenal untuk menunjuk pada penderitaan Kristus.hukuman salib adalah hukuman mati yang sangat hina pada jaman kuno di Timur Tengah, kemudian digunakan juga oleh bangsa Romawi. Salib dan mahkota duri menunjukkan penghinaan dan kekejaman manusia terhadap Yesus sampai pada kematian-Nya di kayu salib.
6. PASKAH
Paskah dirayakan sebagai hari kebangkitan Kristus yang merupakan dasar kekristenan. Masa Paskah dimulai pada Minggu Paskah dan dilanjutkan selama 50 hari sampai Pentakosta. Paskah dari kata Ibrani “pesah” yang berarti “melewati” atau “berlalu”, bagi orang percaya berarti berlalunya kuasa dosa dalam hidupnya.
Warna liturgy untuk Paskah  : putih
Symbol                               : bunga lily (putih)
Warna dasar                        : putih
Arti:
Bunga lily merupakan symbol kekekalan. Untuk tumbuh menjadi pohon, umbi bunga lily harus ditanam dan mati di dalam tanah, sesudah itu baru tumbuh kehidupan baru. Lewat Paskah orang percaya telah menerima kehidupan baru yang kekal karena penderitaan dan kematian serta kebangkitan Kristus.
7. KENAIKAN
Dengan kenaikan-Nya ke sorga, Kristus diakui sebagai Raja di atas segala raja dan Tuhan di atas segala tuhan. Yesus yang mati dan bangkit telah ditinggikan Allah, sehingga mengambil bagian dalam kemuliaan, kekuasaan, dan pemrintahan Allah secara penuh.
Warna liturgy untuk kenaikan: putih
Symbol : salib dan mahkota kemuliaan
Warna dasar : putih
Warna mahkota dan salib : kuning
Arti:
Melalui penderitaan dan kematian Kristus, mahkota duri yang diletakkan di kepala-Nya diganti   dengan  mahkota  kemuliaan  yang dinyatakan melalui kenaikan-Nya. Setiap orang yang percaya kepada-Nya akan memperoleh mahkota kehidupan (Why. 2:10).
8. PENTAKOSTA
Pentakosta artinya hari kelima puluh (sesudah paskah). Pentakosta dirayakan sebagai hari turunnya Roh Kudus dan hari kelahiran gereja.
Warna liturgy untuk hari Pentakosta: hijau.
Symbol : burung merpati (7ekor), atau lidah api (7buah) dan seekor burung merpati yang menukik.
Warna dasar               : merah
Warna merpati            : perak
Warna lidah api           : kuning pada tepinya
Arti:
Ketujuh ekor burung merpati atau ketujuh lidah api melambangkan ke tujuh Roh Allah (Why. 4:5) membentuk lingkaran yang menghadirkan kekekalan. Kewtujuh ekor burung merpati atau ketujuh lidah api itu juga melambangkan tujuh buah karunia Roh Kudus (Why. 5:12 atau Yes. 12:2-3). Merpati yang menukik dan lidah api menunjuk pada peristiwa pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta.
9. MINGGU PENTAKOSTA / MINGGU TRINITAS KE-1
Minggu Pentakosta diikuti oleh masa Trinitas, yang dimulai dengan Minggu Trinitas seminggu kemudian. Hari Minggu Trinitas dirayakan satu minggu sesudah hari Pentakosta (minggu I sesudah Pentakosta) untuk menyaksikan Allah yang esa. Dalam hari raya ini pernyataan Allah dan kekudusan keesaan-Nya menjadi pusat ibadah jemaat.
Warna liturgy Minggu Pentakosta / Minggu Trinitas ke-1: putih
Symbol                 : lingkaran segitiga / triquetra
Warna dasar         : putih
Warna lambang    : merah
Arti:
Lambang lingkaran segitiga merupakan lambang ketritunggalan yang mula-mula. Tiga buah lekukan yang tidak terputus, saling bersambung, menyatakan kekekalan dari ketritunggalan tersebut. Pada pusat ketiga lekukan tersebut terbentuk segi tiga yang merupakan symbol Tri tunggal.
10. MINGGU SESUDAH MINGGU PENTAKOSTA / MINGGU TRINITAS
Minggu sesudah Pentakosta dirayakan selama 25 minggu. Masa ini disebut Masa Gereja Berjuang. Minggu sesudah Pentakosta untuk mengingatkan kita akan perjuangan hidup gereja sepanjang masa. Dalam perjuangan itu Allah menyertai gereja-Nya.
Simbol,  burung merpati dengan ranting zaitun diparuhnya, perahu layar, dan pelangi.
Warna dasar               : hijau
Warna pelangi             : merah, kuning, hijau
Warna burung              : putih
Warna ranting              : pinggir putih
Warna tiang dan layar   : putih (penuh)
Warna salib                 : hijau
Warna ombak              : putih
Warna perahu              : bergaris putih
Arti:
Perahu merupakan symbol gereja. Ide ini sangat berarti bagi orang Kristen mula-mula yang mengalami penganiayaan dan pergumulan. Mereka percaya bahwa Tuhan menjadi penolong dalam penganiayaan dan pergumulan itu. Hal tersebut ternyata dari perpaduan antara pelangi dan perahu. Dalam symbol ini janji Allah untuk memelihara gereja dan dunia mendapat tekanan yang kuat. Burung merpati dengan ranting zaitun di paruhnya mengungkapkan tentang janji keselamatan dan kehidupan dari Allah yang akan terus menyertai gereja sampai di tujuan.
PEMBAGIAN MINGGU MENURUT TAHUN GEREJAWI
Pembagian minggu-minggu menurut tahun gerejawi yang diikuti oleh gereja pada umumnya, adalah sebagai berikut :
NO
HARI
ARTI/MAKSUD
MASA
WARNA
SIMBOL
1
Minggu Advent
Minggu persiapan Natal
Empat minggu sebelum tanggal 25 Desember
Ungu
Salib jangkar
2
Hari Raya Natal
Hari Kelahiran Kristus
Tanggal 25 desember
Putih
Palungan dan pelangi
3
Minggu Epifania
Hari pernyataan Yesus secara khusus baptisan-Nya
S/d tanggal 06 Januari
Hijau
Bintang bersegi lima
4
Masa Prapaskah
Persiapan Paskah
Tujuh minggu sebelum Paskah
Ungu atau hitam
Ikan (Ichtus)
5
Jumat Agung
Kematian Kristus
Hari Jumat sebelum Paskah
Hitam atau merah
Salib dan mahkota duri
6
Paskah
Kebangkitan Kristus
Hari minggu Paskah
Putih
Bunga lili
7
Kenaikan Kristus
Kenaikan Kristus ke surga
Empat puluh hari sesudah Paskah
Putih
Salib dan mahkota kemuliaan
8
Pentakosta
Turunnya Roh Kudus
Sepuluh hari sesudah kenaikan
merah
Lidah api dan burung merpati
9
Minggu Pentakosta/Minggu Trinitas ke-1
Hari untuk menghayati ketritunggalan Allah
Satu minggu sesudah hari Pentakosta
Putih
Triquetra
10
Hari-hari Minggu sesudah Trinitas ke-2 sampai ke-26
Masa gereja Berjuang
25 minggu sesudah minggu Pentakosta/Minggu Trinitas I
Hijau
Burung merpati dengan ranting-ranting zaitun di paruhnya, perahu berlayar, dan pelangi.
Keterangan secara rinci minggu-minggu tersebut sebagai berikut (kata yang dicetak miring menunjukkan arti minggu tersebut atau introitus dalam bahasa latin) :
1.     Minggu advent : empat minggu sebelum tanggal 25 Desember
2.     Hari raya Natal : tanggal 25 desember
3.     Minggu Epifania (hari pernyataan Yesus secara khusus : baptisan-Nya s/d tanggal 6 Januari).
4.     Minggu Septuagesima (ketujuh puluh: 70 hari sebelum Paskah).
5.     Minggu Sexagesima (keenam puluh :60 hari sebelum Paskah).
6.     Minggu Quinquagesima (kelima puluh : 50 hari sebelum Paskah).
7.     Minggu Esto Mihi (Minggu Sengsara I) “Jadilah bagiku” Maz. 31:3.
8.     Minggu Invocavit (Minggu Sengsara II) “Bila ia berseru kepadaKu, Aku akan menjawab …” (maz. 91:15).
9.     Minggu Reminiscere (Minggu Sengsara III) “Ingatlah segala rahmatMu dan kasih setiaMu, ya Tuhan”. (Maz. 25:6).
10.  Minggu Oculi (Minggu Sengsara IV) “Mataku tetap terarah kepada Tuhan …. (Maz. 25:15).
11.  Minggu Laetare (Minggu Sengsara V) “Bersukacitalah bersama-sama Yerusalem ….” (Yesaya 66:10).
12.  Minggu Judica (Minggu Sengsara VI) “Berilah keadilan kepadaku, ya Allah ….” (Mazmur 43:1).
13.  Minggu Palmarum (Minggu Sengsara VII).
14.  Hari Raya Paskah : Kebangkitan Kristus.
15.  Minggu Quasimodogeniti (Minggu Paskah ke-1) “ Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir … “ (II Petrus 2:2).
16.  Minggu Misericordias Domini (Minggu paskah ke-2) “ … bumi penuh dengan kasih setia Tuhan “ (Mazmur 33:5).
17.  Minggu Yubilate (Minggu Paskah ke-3) “Bersorak-soraklah bagi Allah, hai seluruh bumi …” (Mazmur 66:1).
18.  Minggu Cantatae (Minggu Paskah ke-4) “Nyanyikanlah nyanyian baru bagi Tuhan … “ (Mazmur 98:1).
19.  Minggu Rogate (Minggu Paskah ke-5) “Terpujilah Allah, yang tidak menolak doaku …” (Mazmur 66:20).
20.  Peringatan Kenaikan Yesus ke sorga.
21.  Minggu Exaudi “Dengarlah Tuhan, seruan yang kusampaikan ….” Mazmur 27:7.
22.  Pentakosta : hari turunnya Roh Kudus.
23.  Minggu Pentakosta/Minggu Trinitas ke-1.
24.  Minggu Trinitas ke-2 – ke-26.



AYAT-AYAT EMAS DALAM ALKITAB

Ayat-ayat Emas Alkitab

Perjanjian Lama
Didapati-Nya dia di suatu negeri, di padang gurun, di tengah-tengah ketandusan dan auman padang belantara. Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya.
Ulangan 32:10
Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
Yeremia 29:11
Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? “Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring” — maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.
Amsal 6:9-11
Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya.
Amsal 10:4
Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.
Amsal 10:22
Harta yang cepat diperoleh akan berkurang, tetapi siapa mengumpulkan sedikit demi sedikit, menjadi kaya.
Amsal 10:11
Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.
Amsal 10:22
Isteri yang cakap adalah mahkota suaminya, tetapi yang membuat malu adalah seperti penyakit yang membusukkan tulang suaminya.
Amsal 12:4
Lebih baik menjadi orang kecil, tetapi bekerja untuk diri sendiri, dari pada berlagak orang besar, tetapi kekurangan makan.
Amsal 12:9
Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang, tetapi perkataan yang baik menggembirakan dia.
Amsal 12:25
Harta yang cepat diperoleh akan berkurang, tetapi siapa mengumpulkan sedikit demi sedikit, menjadi kaya.
Amsal 13:11
Pada musim dingin si pemalas tidak membajak; jikalau ia mencari pada musim menuai, maka tidak ada apa-apa.
Amsal 20:4
Milik yang diperoleh dengan cepat pada mulanya, akhirnya tidak diberkati.
Amsal 20:21




Perjanjian Lama

Kejadian
49:10 Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa.
Keluaran
14:14 TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.”
15:11 Siapakah yang seperti Engkau, di antara para allah, ya TUHAN; siapakah seperti Engkau, mulia karena kekudusan-Mu, menakutkan karena perbuatan-Mu yang masyhur, Engkau pembuat keajaiban?
15:26 firman-Nya: “Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan memasang telingamu kepada perintah-perintah-Nya dan tetap mengikuti segala ketetapan-Nya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit mana pun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab Aku TUHANlah yang menyembuhkan engkau.”
Perjanjian Baru
Matius
5:3 “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
5:4 Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
5:5 Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
Markus
1:11 Lalu terdengarlah suara dari sorga: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”
1:15 kata-Nya: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”
Yohanes
1:12 Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;
1:14 Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.


I L Nommensen

Biografi sebagai penginjil
Ludwig Ingwer Nommensen (di daerah Batak dikenal sebagai Ingwer Ludwig Nommensen atau I.L. Nommensen; lahir diNordstrandDenmark (kini Jerman), 6 Februari 1834 – meninggal di Sigumpar, Toba Samosir23 Mei 1918 pada umur 84 tahun) adalah seorang penyebar agama Kristen Protestan di antara suku BatakSumatera Utara. yang berasal dari Jerman, tetapi lebih dikenal diIndonesia. Hasil dari pekerjaannya ialah berdirinya sebuah gereja terbesar di tengah-tengah suku bangsa Batak Toba yaitu Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Nommmensen adalah manusia biasa dengan tekad luar biasa. Perjuangan pendeta itu untuk melepaskan animisme dan keterbelakangan dari peradaban Batak patut mendapatkan penghormatan.
Masa kecil
Nommensen berasal dari Pulau Noordstrand di Schleswig, yang pada waktu itu merupakan wilayah Denmark. Keluarganya hidup dalam kemiskinan dan penderitaan, sehingga sejak kecil, Nommensen terbiasa hidup dalam kondisi yang demikian. Maka dari itu, sejak kecil, ia sudah mencari nafkah untuk membantu orangtuanya Ketika berumur 7 tahun, Nommensen memilih menggembalakan angsa daripada duduk di bangku sekolah. Pada umur 8 tahun, ia mulai mencari nafkah untuk membantu orang tuanya dengan cara menggembalakan domba. Pada usia 9 tahun, ia belajar menjadi tukang atap.  Lalu, pada usia 10 tahun, ia bekerja pada seorang petani yang kaya sambil belajar mengerjakan tanah. Ia juga bekerja menuntun kuda yang menarik bajak untuk membajak tanah petani kaya tersebut. 
Pada tahun 1846, saat berusia 12 tahun, Nommensen mengalami kecelakaan. Sewaktu ia bermain kejar-kejaran dengan temannya, ia ditabrak kereta kuda yang menggilas kakinya sampai patah dan keadaan yang demikian memaksanya berbaring di tempat tidur berbulan-bulan lamanya Waktu itu, dalam doanya, Nommensen meminta kesembuhan dan berjanji, jika ia disembuhkan, maka ia akan memberitakan injil kepada orang kafir. Setelah kakinya sembuh, Nommensen kembali menjadi buruh tani untuk membantu keluarganya setelah kematian ayahnya.
Pendidikan dan misi
Pada usia 20 tahun, Nommensen berangkat ke Barmen (sekarang Wuppertal) untuk melamar menjadi penginjil. Selama empat tahun ia belajar di seminari zending LutheranRheinische Missionsgesellschaft (RMG). Sesudah lulus, ia kemudian ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 1861. Ia ditugaskan oleh RMG ke Sumatra dan tiba pada tanggal 14 Mei 1862 di Padang. Ia memulai misinya di Barus dengan harapan akan mendapatkan izin untuk menetap di daerah Toba. Namun, pemerintah kolonial tidak mengizinkan dengan alasan keamanan. Oleh sebab itu, ia bergabung dengan penginjil-penginjil lain yaitu Misionaris Pdt. Heyni dan Pdt. Klammer yang telah berada di daerahSipirok yang setelah Perang Padri dimasukkan dalam wilayah Hindia-Belanda. Di situ, sebagian dari penduduk sudah memeluk agama Islam sehingga kemajuannya lambat.  Setelah berdiskusi dengan kedua misionaris ini, disepakati pembagian wilayah pelayanan, bahwa Nommensen akan bekerja di Silindung.
Kunjungan pertama ke Tarutung dilakukan pada 11 November 1863. Pada kunjungan pertama ini, Nommensen diterima oleh Ompu Pasang (Ompu Tunggul) kemudian tinggal di rumahnya yang daerahnya masuk dalam kekuasaan Raja Pontas Lumban Tobing. Dari sini Nommensen kemudian kembali ke Sipirok untuk mempersiapkan segala sesuatunya yang diperlukan dalam pelayanannya.
Pada pertengahan tahun berikutnya, 1864, Nommensen dengan membawa semua perlengkapannya berangkat kembali ke Tarutung, dan tiba di Tarutung pada tanggal 7 Mei1864. Nommensen kembali ke rumah Ompu Pasang (Ompu Tunggul), tetapi dia ditolak. Di Onan Sitahuru, Nomensen duduk dan merenung di bawah sebatang pohon beringin (hariara) untuk memikirkan apa yang akan dia perbuat. Nommensen lalu pergi ke desa lain dan sampai ke di desa Raja Aman Dari Lumban Tobing. Nommensen berharap Raja Aman Dari Lumbantobing dapat mengijinkannya tinggal di atas lumbung padinya. Akan tetapi Raja Aman Lumbantobing sedang pergi kedesa lain membawa isterinya yang sedang sakit keras. Melalui seorang utusan, Nommensen menyampaikan niatnya ini kepada Raja Aman Lumbantobing, akan tetapi Raja Aman Lumbantobing menolak. Nommensen kemudian meminta utusannya ini untuk kembali menemui Raja Aman Lumbantobing untuk kedua kalinya dengan pesan, “bahwa sekembalinya Raja Aman ke desanya, penyakit istrinya akan hilang”. Raja Aman kemudian berkata, apabila perkataan Nomensen itu benar, maka dia akan mengizinkan Nomensen tinggal dirumahnya. Penyakit istri Raja Aman sembuh. Raja Aman Lumbantobing kemudian mengizinkan Nomensen tinggal di rumahnya.
Akan tetapi, pada mulanya Raja Pontas Lumban Tobing tidak mau menerima Nommensen. Dia berusaha memengaruhi Raja-Raja di Silindung supaya menolak Nommensen. Sebaliknya, Raja Aman Dari Lumban Tobing, juga berusaha memengaruhi Raja-Raja di Silindung untuk menerimanya. Sehingga masyarakat di sekitar Silindung terbagi dua dalam hal penerimaan terhadap Nommensen. Walaupun masyarakat Silindung terbagi dua (ada yang menerima dan ada yang menolak Nommensen), Nommensen tetap berada di Tarutung dan memulai pelayanannya mengabarkan Injil.
Satu tahun kemudian, 27 Agustus 1865, Nommensen dapat melakukan pembabtisan pertama kepada satu orang Batak. Bahkan di kemudian hari, Raja Pontas Lumban Tobing yang dulunya menolak Nommensen, meminta supaya dia dan keluarganya dibaptis. Pada saat itu juga Raja Pontas meminta supaya Nommensen pindah dari Huta Dame ke Pearaja. Setelah Raja Pontas dan keluarganya masuk Kristen, masyarakat Silindung makin banyak masuk Kristen.
Sejalan dengan pertumbuhan Gereja di Silindung, Nommensen membuka Sekolah Guru di Pansur Napitu. Lulusan sekolah ini dijadikan menjadi guru Injil dan Guru Sekolah. Di kemudian hari, sekolah ini dipindahkan ke Sipaholon. Kemudian, Nommensen membuka pos Penginjilan baru di Sigumpar. Dari sanalah beliau menyebarkan Injil bersama para pembantunya ke seluruh Toba Holbung dan Samosir.
Ketika diberi izin oleh pemerintah kolonial, maka RMG menunjuk Nommensen untuk membuka pos zending baru di Silindung. Kehadiran zending ditantang oleh sebagian rajadan juga oleh sebagian besar penduduk karena mereka takut akan terkena bencana jika menyambut seorang asing yang tidak memelihara adat. Selain itu, sikap menolak para raja disebabkan pula oleh kekhawatiran bahwa dengan kedatangan orang-orang kulit putih ini menjadi perintis jalan bagi pemerintahan Belanda yang berkuasa pada waktu itu. Sekalipun demikian, Nommensen berhasil mengumpulkan jemaatnya yang pertama di Huta Dame (terjemahan dari Yerusalem - Kampung Damai). Pada tahun 1873, ia mendirikan gedung gereja, sekolah, dan rumahnya di Pearaja dan hingga kini, Pearaja tetap menjadi pusat Gereja HKBP.
Para Raja di Tanah Batak, 1890
Karena kehadiran para misionaris tidak disetujui oleh sebagian raja, terutama oleh mereka yang berpihak pada Sisingamangaraja XII, maka pada bulan Januari 1878Singamangaraja sebagai raja yang, menurut pengakuannya sendiri, memiliki kedaulatan atas Silindung, memberi ultimatum kepada para zendeling RMG untuk segera meninggalkan Silindung. Pada akhir Januari, Nommensen meminta kepada pemerintah kolonial Belanda untuk mengirim tentara untuk segera menaklukkan Tanah Batak yang pada saat itu masih merdeka. Pada awal tahun 1878, pasukan pertama di bawah pimpinan Kapten Scheltens bersama dengan Kontrolir Hoevell menuju Pearaja dan disambut oleh Nommensen. Antara Februari hingga Maret, 380 pasukan tambahan dan 100 narapidana didatangkan dari Sibolga.Februari 1878, ekspedisi militer untuk menumpaskan pasukan Singamangaraja dimulai. Penginjil Nommensen dan Simoneit mendampingi pasukan Belanda selama ekspedisi militer yang dikenal sebagai Perang Toba I. Keduanya menjadi penunjuk jalan dan penerjemah, serta malah dianggap ikut berperan dalam menentukan kampung-kampung mana yang akan dibakar. Sesudah ekspedisi militer berakhir, puluhan kampung, termasuk markas Singamangaraja di Bangkara dibumihanguskan. Atas jasa membantu pemerintah Belanda, pada 27 Desember 1878, Nommensen dan Simoneit menerima surat penghargaan dari pemerintah Belanda, ditambah uang tunai sebanyak 1000 gulden.
Setelah Silindung dan Toba ditaklukkan dalam Perang Toba IBatakmission (zending Batak) mengalami kemajuan dengan pesat, khususnya di daerah Utara. Nommensen berhasil meyakinkan ratusan raja untuk berhenti mengadakan perlawanan. Tentunya, hal ini dapat terjadi setelah Nomensen meyakinkan kembali masyarakat bahwa ia bukan kaki tangan Belanda dan kedatangannya untuk membawa kebaikan. Hal ini nampak dalam tindakan keseharian Nommensen bagi orang-orang Batak waktu itu. Contoh beberapa raja yang akhirnya bersikap positif ialah Raja Pontas Lumbantobing (Sipahutar), Ompu Hatobung (di Pansur Napitu), Kali Bonar (di Pahae), Ompu Batu Tahan (diBalige), dan lainnya.  Pada tahun 1881, Nommensen memindahkan tempat tinggalnya ke kampung Sigumpar, dan ia tinggal di sana sampai akhir hayatnya. Pada tahun kematiannya, Batakmission (cikal bakal Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) mencatat jumlah orang Batak yang dibaptis telah mencapai 180.000 orang.
kompleks zending di Pearaja beserta dengan sekolah, gereja, dan rumah sakit
Untuk menjaga tatanan hidup dari ribuan orang yang baru masuk menjadi Kristen, Nommensen menyediakan bagi mereka suatu tatanan yang baru.  Pada tahun 1866, ditetapkanlah sebuah Aturan Jemaat. Aturan itu meliputi kehidupan orang Kristen di dalam jemaat maupun dalam lingkungan keluarga menyangkut ibadah, perkawinan, hukum, dan pejabat gerejawi.  Di samping itu, Nommensen menerjemahkan kitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Batak. Ia menerbitkan cerita-cerita Batak dan menerbitkan cerita-cerita PL. Ia juga berusaha untuk memperbaiki pertanian, peternakan, meminjamkan modal, dan menebus hamba-hamba dari tuannya.  Jasa Nommensen juga dikenang oleh orang Batak antara lain karena usahanya di bidang pendidikan dengan membuka sekolah penginjil yang menghasilkan penginjil-penginjil Batak pribumi. Demikian juga untuk memenuhi kebutuhan guru di sekolah, RMG bersama Nommensen membuka pendidikan guru.
Karena kecakapan dan jasa-jasanya dalam pekerjaan penginjilan, maka pimpinan RMG, pada tahun 1881,mengangkat Nommensen sebagai Ephorus. Jabatan ini diembannya sampai akhir hidupnya.  Di hari ulang tahunnya yang ke-70, Nommensen mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Bonn.  Pada tahun 1911, ia memperoleh penghargaan Kerajaan Belanda dengan diangkat sebagai Officer Ordo Oranye-Nassau. Ia pun akhirnya mendapat gelar sebagai Rasul Orang Batak.

Sejarah Singkat Tentang I. L Nommensen Di Tanah Batak

Hidup atau mati biarlah aku tinggal di tengah-tengah bangsa ini untuk menyebarkan firman dan kerajaan-Mu. Amin”
(Dr. Ingwer Ludwig Nommensen)
Berbicara tentang peradaban Batak, barangkali akan lain ceritanya jika Dr. Ingwer Ludwig Nommensen tidak pernah menginjakkan kakinya di Tanah Batak. Siapakah dia dan mengapa ia dijuluki sebagai “Apostel Batak”?
suatu kali dalam sidang zending di Barmen, ketika utusan Denmark dan Jerman mengklaim bahwa Nommensen adalah warga negara mereka, Pendeta Dr. Justin Sihombing yang hadir waktu itu justru bersikeras mengatakan bahwa Nommensen adalah orang Batak.
Nommensen muda, ketika genap berusia 28 tahun telah hijrah meninggalkan Nordstrand dan hidup di Tanah Batak hingga akhir hayatnya dalam usia 84 tahun.
Masa mudanya, ia lewati dengan menjalani pendidikan teologia (1857-1861) di Rheinische Missions-Gesselscha ft (RMG) Barmen, setelah menerima sidi pada hari Minggu Palmarum 1849, ketika berusia 15 tahun.
Sebenarnya, kedatangan penginjil-penginjil Eropa ke Tanah Batak pun sudah dimulai sejak 1820-an. Pada 1824 Gereja Baptis Inggris mengirimkan dua penginjil: Pendeta Burton Ward dan Pendeta Evans yang terlebih dahulu tiba di Batavia. Pendeta Evans menginjil di Tapanuli Selatan, Pendeta Burton Ward di wilayah Silindung. Sayangnya, mereka ditolak. Animesme masih kuat dalam kehidupan suku Batak.
Sepuluh tahun kemudian, dua penginjil Amerika: Samuel Munson dan Henry Lyman pun tiba di Silindung. Tapi, mereka malah mendapati ajalnya di sana setelah dibunuh oleh sekelompok orang di Saksak Lobu Pining, sekitar Tarutung. Pembunuhan dilakukan atas perintah Raja Panggalamei. Kedua missionaris dimakamkan di Lobu Pining, sekitar 20 kilometer dari Kota Tarutung, menuju arah Kota Sibolga.
Impian Nommensen untuk menjadi penginjil sudah muncul sejak kecil, meski pada pada masa-masa itu ia sudah terbiasa hidup sederhana. Dalam kesederhanaan itu, disebabkan orangtuanya yang tunakarya dan sering sakit-sakitan, ia bahkan sering kelaparan karena tidak punya makanan sehingga terpaksa mencari sisa-sisa makanan di rumah-rumah orang kaya bersama teman-temannya. Maka, sejak usia 8 tahun pun ia sudah menjadi gembala upahan hingga umur 10 tahun.
Tapi, rintangan tak luput menghambat cita-cita mulia itu. Sekali waktu, ketika berusia 12 tahun, Nommensen mengalami kecelakaan ketika berkejar-kejaran dengan temannya dan tertabrak kereta kuda sehingga membuat kakinya lumpuh. Akan tetapi Tuhan berkehendak lain.
Ketika dokter yang merawatnya menganjurkan agar kakinya diamputasi, ia menolak dan meminta agar didoakan oleh ibunya dengan syarat, jika doa itu terkabul maka ia akan memberitakan injil kepada orang yang belum mengenal Kristus. Tak lama kemudian doa itu terkabul, ia pun sembuh.
Pada 1853, dengan keputusan yang matang, berbekal sepatu dan pakaian seadanya, ia pun pergi meninggalkan kampung halamannya untuk meraih cita-cita dan janjinya itu, yang juga sempat tertunda karena gagal menjadi kolesi di pelabuhan Wick. Ia kemudian bertemu dengan Hainsen, mantan gurunya di Boldixum. Hainsen lalu mempekerjakannya sebagai guru pembantu di Tonderm setelah beberapa waktu menjadi koster. Di sinilah ia bertemu dengan Pendeta Hausted dan mengungkapkan cita-citanya itu. Ia pun melamar di Lembaga Pekabaran Injil Rhein atau RMG Barmen.
Nommensen lalu mematangkan pengetahuannya tentang injil dengan kuliah teologia pada 1857, ketika berusia 23 tahun. Pada masa itu, pekerjaan sebagai tukang sapu, pekerja kebun dan juru tulis sekolah, turut disambinya, hingga ia lulus dan ditahbiskan menjadi pendeta pada 13 Oktober1861, yang kemudian membawanya ke Tanah Batak pada 23 Juni 1862.
Dari Norsdtrand ke Silindung
Nommensen, yang kini tetap dikenang dan dipanggil dengan gelar kehormatan “Ompu I, Apostel Batak”, dalam perjalanan misi zendingnya bukanlah tanpa rintangan. Bahkan, dalam beberapa kali ia pernah akan dibunuh dengan cara menyembelih dan meracunnya. Alasannya, ia dicurigai sebagai mata-mata “si bottar mata” (stereotip ini ditujukan kepada Belanda).
Tapi ia tidak takut sebab janjinya kepada Tuhan harus dipenuhi. Sekali waktu ia pun berkata, ”Tidak mungkin, seujung rambut pun tidak akan bisa diambil kalau tidak atas kehendak Allah.”
Sebelumnya, setelah resmi diutus dari RMG Barmen ia terlebih dahulu menemui Dr. H. N. Van der Tuuk, yang sebelumnya pada 1849 telah diutus oleh Lembaga Alkitab Belanda untuk mempelajari Bahasa Batak.
Setelah mendapatkan mendapatkan informasi lebih jauh tentang Batak, maka pada 24 Desember 1861 ia pun berangkat dengan kapal “Partinax” menuju Sumatra dan tiba di Padang pada 16 Mei 1862. Dari sana ia kemudian meneruskan perjalanannya ke Barus melalui Sibolga.
Di sinilah pertama kali ia bertemu langsung dengan orang Batak kemudian mempelajari bahasa dan adatnya. Hanya saja, ia tak lama di sana. Selain karena sudah masukya agama Islam, ia melihat adanya nilai pluraritas antarsuku yang sudah menyatu di sana: Toba, Angkola, Melayu, Pesisir.
Maka, setelah beberapa bulan tinggal di sana, ia pun memutuskan untuk pergi ke daerah lain: Sipirok. Lalu, atas keputusan rapat pendeta yang ke-2 pada 7 Oktober 1862 di Sipirok (setelah sebelumnya melayani penduduk di Parau Sorat, dan mendirikan gereja yang pertama di sana), pergilah ia menuju wilayah perkampungan Batak yang dikenal dengan Silindung.
Di sana, suatu kali di puncak (dolok) Siatas Barita (sekarang puncak Taman Wisata Rohani Salib Kasih, Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara), Nommensen pernah hendak dibunuh. Waktu itu sedang berlangsung ritual penyembahan kepada Sombaon Siatas Barita, ialah roh alam yang disembah orang Batak. Kerbau pun disembelih. Akan tetapi, pemimpin ritual (Sibaso) tidak menyukainya dan menyuruh pengikutnya untuk membunuhnya.
Lalu, kata Nommensen kepada mereka, “Roh yang berbicara kepada Sibaso bukanlah roh Siatas Barita, nenek moyangmu, melainkan roh setan. Nenek moyangmu tidak mungkin menuntut darah salah satu keturunannya.” Sibaso jatuh tersungkur dan mereka tidak mengganggunya lagi.
Setelah berhasil menjalin persahabatan dengan raja-raja yang paling berpengaruh di Silindung: Raja Amandari dan Raja Pontas Lumban Tobing, maka pada 29 Mei 1864, Nommensen mendirikan gereja di Huta Dame, sekitar Desa Sait ni Huta, Tarutung. Kemudian atas tawaran Raja Pontas, maka turut didirikan jemaat di Desa Pearaja, yang kini menjadi pusat gereja HKBP.
Setelah itu ia pergi ke Humbang dan tiba di Desa Huta Ginjang. Kemudian pada 1876 ia berangkat ke Toba ditemani Pendeta Johannsen dan sampai di Balige. Tetapi, akibat situasi yang gawat waktu itu, ketika pertempuran antara pasukan Sisingamangaraja XII dengan pasukan Belanda sedang terjadi, mereka pun menangguhkan perjalanan dan kembali ke Silindung.
Pada 1886 Nommensen kembali ke Toba (Laguboti dan Sigumpar), setelah pada 1881 Pendeta Kessel dan Pendeta Pilgram tiba dan berhasil menyebarkan injil di sana. Misi kedua pendeta ini kemudian dilanjutkan oleh Pendeta Bonn yang telah mendapat restu dari Raja Ompu Tinggi dan Raja Oppu Timbang yang menyediakan lahan gedung sekolah di Laguboti.
Pendeta Boon pindah dari Sigumpar ke Pangaloan dan Nommensen menggantikan tugasnya. Sepeninggalan Boon, Nommensen mendapat rintangan di mana sempat terjadi perdebatan sesama penduduk atas izin sebidang tanah. Setelah akhirnya mendapat persetujuan dari penduduk, ia pun mendirikan gereja, sekolah, balai pengobatan, lahan pertanian dan tempat tinggalnya di sana. Konsep pembangunan satu atap ini disebut dengan “pargodungan”, yang menjadi karakter setiap pembangunan gereja Protestan di Tanah Batak.
Dari Sigumpar, Nommensen bersama beberapa pendeta lainnya melanjutkan zending dengan menaiki “solu” (perahu) melintasi Danau Toba yang dikaguminya menuju Pulau Samosir. Maka, pada 1893 Pendeta J. Warneck pun tiba di Nainggolan, 1898 Pendeta Fiise di Palipi, 1911 Pendeta Lotz di Pangururan dan 1914 Pendeta Bregenstroth di Ambarita.
Misi zending tak berhenti sampai di sana. Nommensen lalu mengajukan permohonan kepada RMG Barmen agar misinya diperluas hingga wilayah Simalungun. Permohonan itu ditanggapi dengan mengutus Pendeta Simon, Pendeta Guillaume dan Pendeta Meisel menuju Sigumpar pada 16 Maret 1903. Dari sana mereka pergi ke Tiga Langgiung, Purba, Sibuha-buhar, Sirongit, Bangun Purba, Tanjung Morawa, Medan, Deli Tua, Sibolangit dan Bukum. Bersama Nommensen, mereka pun melanjutkan perjalanan melalui Purba, Raya, Pane, Dolok Saribu hingga Onan Runggu.
Zending inkulturatif
Misi Nommensen memang penuh pengorbanan. Tapi, ia tulus. Demi misinya, ia bahkan tak sempat melihat Caroline Gutbrod, yang wafat setelah sebelumnya jatuh sakit dan terpaksa dipulangkan ke Jerman.
Nommensen juga banyak menyisakan kenangan, yang barangkali menjadi simbol pengorbanan dan jasanya kelak. Kenangan-kenangan itu ibarat benih, meski sang penabur kelak telah tiada. Barangkali, Gereja Dame adalah salah satu benih itu, yang ketika penulis berkunjung ke sana, tampak kondisiya sudah mulai usang tapi masih berfungsi. Gereja kecil itu adalah gereja yang pertama kali didirikannya ketika menginjakkan kakinya di daerah Silindung, Tarutung.
Lokasinya di Desa Onan Sitahuru Saitni Huta, sekitar 2 kilometer ke arah selatan Kota Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara. Di gereja ini, Nommensen mulai mengajar umatnya dengan teratur. Selain mengajar Alkitab (termasuk menerjemahkan kitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Batak), ia juga mengajar pertanian serta mulai menyusun tata pelaksanaan ibadah gereja dengan teratur.
Onan Sitahuru sendiri, sekitar 1816-1817 merupakan pusat perdagangan terbesar di Tanah Batak karena terdapat sebuah “hariara” (pohon beringin) di sana. Menurut penuturan warga setempat, di pohon inilah Nommensen pernah akan dipersembahkan kepada Dewa Siatas Barita, tapi ia berhasil diselamatkan pembantunya. Pohon berusia 190 tahun itu kini masih dapat ditemui di sana.
Tercatat pula bahwa sejak tahun 1861 telah berdiri gereja-gereja kecil (resort) di Sipirok dan Bunga Bondar atas misi zending sebelumnya. Kemudian atas Nommensen pada 1862 di Parau Sorat, Pangaloan, Sigompulon; 1864 di Pearaja; 1867 di Pansur Napitu; 1870 di Sipoholon, Sibolga, Aek Pasir; 1875 di Simorangkir; 1876 di Bahal Batu; 1881 di Balige; 1882 di Sipahutar, Lintong ni Huta; 1883 di Muara; 1884 di Laguboti, 1888 di Hutabarat, Sipiongot; 1890 di Sigumpar, Narumonda, Parsambilan, Parparean; 1893 di Nainggolan; 1894 di Silaitlait; 1897 di Simanosor Batangtoru; 1898 di Palipi; 1899 di Lumban na Bolon, 1900 di Tampahan, Butar; 1901 di Sitorang; 1902 di Lumban Lobu, Silamosik, Nahornop; 1903 di Paranginan, Pematang Raya; 1904 di Dolok Sanggul; 1905 di Parmonangan, Sipiak; 1906 di Parsoburan; 1907 di Pematang Siantar; 1908 di Sidikalang; 1909 di Bonan Dolok, Tukka; 1910 di Purbasaribu; 1911 di Barus; 1912 di Medan; 1914 di Ambarita dan 1922 di Jakarta.
Sekarang, benih-benih itu telah berbuah dengan lahirnya gereja-gereja HKBP, GKPI, HKI, GKPS, GBKP dan GKPA, sebagai buah misi zending inkulturatif, yang tidak melupakan keaslian budaya setempat dalam pelaksanaan rutinitas ibadah. Atas jasanya itu, RMG kemudian mengangkat Nommensen menjadai ephorus pada 1881 hingga akhir hayatnya dan digantikan oleh Pendeta Valentine Kessel (1918-1920). Pada 6 Februari 1904, ketika genap berusia 70, Universitas Bonn menganugerahinya gelar Doktor Honoris Causa. Namanya lalu ditabalkan untuk dua universitas HKBP yang ada di Medan dan Pematangsiantar yang hingga saat ini masih berdiri.
Kemudian, pada Oktober 1993 dibangun pula Kawasan Wisata Rohani Salib Kasih (KWRSK) di puncak Siatas Barita, di mana ia pertama kali menginjakkan kakinya di Silindung. Salib sepanjang 31 meter terpancang di sana, seakan-akan melukiskan kisah karyanya yang agung.
Strategi penginjilan
Strategi misi yang dikembangkan Nommensen ialah mengubah strategi penginjilan awal yang menekankan konversi perorangan dengan mengembangkan strategi yang menekankan Konversi kelompok baik keluarga (mencakup keseluruhan anggota keluarga sebagai satu kesatuan) maupun keseluruhan komunitas kepada iman Kristen. Untuk mewujudkan hal itu, Nommensen membuka pos penginjilan (Missionsstation) baru (termasuk sekolah) dengan tujuan menjalin hubungan baik dengan pemuka raja-raja setempat. Para raja inilah yang menentukan berhasil atau tidaknya usaha misi karena mereka merupakan tokoh yang sangat berpengaruh di tengah-tengah masyarakatnya.
Kematian


Nommensen meninggal pada tanggal 23 Mei 1918, pada umur 84 tahun. Nommensen kemudian dimakamkan di Sigumpar, di tengah-tengah suku Batak, setelah bekerja demi suku ini selama 57 tahun lamanya.